Hadiah Untuk Yuna

Lagi- lagi ia terbangun dengan tidak mulus. Setiap malam ia tertidur dengan beban yang belum terselesaikan, dan setiap pagi ia bangun dengan kecemasan. Yuna, seorang gadis yang  masa remajanya tersita karena kebutuhan dan tuntutan hidup. Kadang ia menyesali, kenapa ia harus  ditinggalkan kedua orang tuanya.

“Pagi ayah, pagi ibu.” Yuna menaburkan bunga dimakam kedua orang tuanya. “Ayah dan Ibu tidak mengucapkan selamat ulang tahun untukku? Aku semalam menanti kado dari kalian.” Ia mulai berbicara di makam orang tuanya tersebut. Matahari mulai mencubit tangan dan pipinya, seolah memberi tanda untuk segera  melanjutkan aktifitasnya kali ini. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, yang ke-17. Dimana dalam hal ini, bagi seorang remaja, umur inilah yang paling dinanti. Dan mereka merayakan dengan berpesta, bersama para sahabat, namun tidak bagi Yuna.

“Selamat ulang tahun Yuna.” Ucap salah seorang sahabat Yuna ketika ia telah sampai di sekolah.

“Terima kasih banyak. Pagi ini kamu adalah orang yang pertama mengucapkannya padaku.” Jawab Yuna dangan wajah lembut.

“Wah, Benarkah? Kalau begitu, kamu mau kado apa? Bilang saja padaku!”

“Tidak usah. Mendapat ucapan saja aku sudah sangat senang.” Yuna Merangkul sahabatnya dengan senyum tulus.

“Baiklah kalau begitu. Aku doakan, apa yang kamu inginkan akan dikabulkan dan pasti menjadi kenyataan.”

“Amiin. Terima kasih banyak.” Yuna dan Sahabatnya menuju ke kelas dengan perasaan yang sangat gembira. ‘Ayah, Ibu. Aku ingin ke Seoul. Aku ingin kuliah jurusan seni tari disana.’

Hari ulang tahun Yuna adalah hari dimana Ayah dan Ibunya meninggal dunia. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan setelah pulang dari sebuah toko buku untuk membeli sebuah buku kecil sebagai hadiah ulang tahun Yuna yang ke-15. Dan hadiah tersebut adalah sebuah kamus Bahasa Korea yang sudah lama ia minta pada ibunya. Dimana untuk membeli kamus tersebut, orang tuanya menyimpan uang selama satu bulan.

Bagaimana tidak, keluarga Yuna adalah keluarga miskin, yang untuk makan sehari-hari orang tuanya harus bekerja banting tulang. Tapi, mereka masih bisa bernafas dengan sedikit lega. Karena Yuna mendapatkan Beasiswa di sekolahnya. Sejak SD hingga SMA, Yuna selalu mendapatkan Beasiswa Prestasi dari sekolahnya.

Setiap pulang sekolah, ia mengikuti les bahasa Korea di Sekolahnya. Namun, ia tidak ikut masuk, duduk, dan berbicara di dalam kelas. Ia hanya mengikuti semua pelajaran dan arahan yang diberikan oleh sang pengajar dari luar kelas, di jendela tepatnya. Melihat hal itu, keduaorang tuanya tidak bisa melarang, semangat dan keinginanan anaknya.

Mengenai hal itu, setelah ia sadar bahwa kedua orang tuanya meninggal karena kecelakan pada saat membelikannnya kamus Bahasa Korea untuk hadiah ulang tahunnya, ia jadi sangat benci dengan semua hal yang berhubungan dengan Korea. Ia menyimpan semua buku danbarang yang bertuliskan huruf Korea. Dan, ia tidak ingin lagi menyanyikan lagu Korea yang selalu ia nyanyikan di depan kedua orang tuanya.Begitupun, ia harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk pergi ke kota Seoul, Korea Selatan.

“Yuna, di sekolah akan diadakan lomba menyanyi. Dan lagu yang dibawakan harus lagu yang berbahasa Jepang, Mandarin atau Korea.” Kata sahabat Yuna, ketika pelajaran telah usai.

“Lalu, apa hubungannya dengan aku?” Yuna bertanya dengan muka bingung.

“Aku tahu kamu cinta banget kan sama Korea. Dan aku mau kamu mengikuti perlombaan tersebut. Kamu tahu, ini adalah perlombaan

tingkat Nasinonal. dan sekolah kita menjadi tuan rumah.”

“Maafkan aku Yuri, aku tidak tertarik.”  Yuna menundukkan wajahnya.

“Siapa yang menjadi Juara I, akan mendapatkan beasiswa ke Negara sesuai dengan bahasa yang dinyanyikan. Dan, kalau kamu menang, kamu akan ke..”

“Maaf Yuri, aku tidak akan mengikutinya.” Yuna segera mengenakan tasnya, dan berlari pulang.  Yuri, ia tidak bisa berbuat apa-apa

lagi. karena ia sangat paham bagaimana perasaan sahabatnya itu.

Setiap hari Yuna selalu teringat dengan kata-kata yang diucapkan oleh Yuri, sahabatnya. Ia bimbang dan bingung, apa yang harus ia

lakukan. Mimpinya adalah bersekolah di Korea, dan jalan itu sudah ada di depan matanya.

“Yuri, aku akan mengikuti perlombaan itu.”

“Baiklah, aku akan menemanimu mendaftar.”

Yuna mengikuti lomba itu dengan rasa penuh harap, semoga ia menang. Terdapat 25 peserta yang berasala dari 15 sekolah di Jakarta.

Dan untuk Yuna adalah satu-satunya peserta dari sekolahnya. Hanya Yuna yang menyanyikan lagu Korea.

“Langsung saja kita umumkan pemenang untuk lomba kali ini. Juara III diraih oleh Pragina Uri dari SMAN 25, Juara II diraih oleh Laura

Ghadaffi dari SMAN 3. Dan Juara I diraih oleh Yunda Sari dari SMAN 1.”

Hati Yuna hancur, putus sudah harapannya. Kini, ia benar-benar mengubur harapan dan kecintaannya terhadap semua yang berhubungan dengan Korea. Ia tidak bisa menyalahkan sahabatnya, karena Yuri hanya ingin memberikan semangat pada Yuna. Yuna tidak bisa menahan air matanya.

“Kamu marah ya sama aku?” Yuri memegang bahu Yuna

“Tidak, aku hanya kecewa pada diriku. Justru aku berterima kasih padamu, karena sudah membantuku sejauh ini.”

“Itu sudah jadi kebahagiaan ku dengan membantumu.”

Walaupun Yuna tidak mendapatkan semangat dari orang tuanya, tapi ia masih bisa mendapatkan semangat dari sahabatnya. Ia berjanji jika ia bisa pergi ke Korea, ia ingin pergi bersama sahabatnya.

“Maaf, diantara kalian berdua, siapa yang bernama Vanessa Yuna?” Tanya salah seorang lelaki pada Yuna dan Yuri sewaktu mereka duduk di aula sekolah.

“Saya, Vanessa Yuna. Ada apa ya?”

“Saya salah satu panitia dari Lomba Menyanyi Lagu Oriental. Dan, selamat, kamu mendapatkan juara favorit. Kemarin telah di

umumkan, namun sepertinya kamu sudah pulang.”

“Benarkah? Tapi dalam brosur tidak diberitahukan akan ada juara favorit.” Tanya Yuna tidak percaya.

“Memang betul, ini lah kejutan dari kami. Dan hadiahnya adalah, jalan-jalan ke kota Negara yang dinyanyikan. Jadi kamu akan jalan-jalan ke Korea Selatan, tepatnya ke kota Seoul dan kamu mendapatkan dua tiket. Jadi kamu bisa mengajak temanmu untuk berjalan-jalan di sana.”

“Wah, terima kasih kak. ”

“Ini tiketnya. Jangan khawatir, semua biaya kami yang menanggung. Dua hari lagi kita akan berangkat. Hubungi saja kesini. Kami akan menjemput kalian.”

“Yuri, aku akan pergi bersamamu, ke Seoul. Kota yang kuimpikan.” Yuna memeluk sahabatnya.

Ayah, Ibu, aku akan pergi ke Seoul. Dan aku tidak pergi sendiri, aku pergi bersama sahabatku yang kusayang. Yuri, terima kasih telah membantuku selama ini. Ini adalah hadiah dari ku untukkmu sebagai rasa terima kasihku padamu. Dan, ini adalah hadiah ulang tahunku yang paling berharga setelah perberian kamus dari orang tuaku.

created by: Lauren ^^

Iklan

About laurenelfsihymelody

I have a twin sister. And our hobbies is dancing, singing, and listen to music.

Ditulis dalam

Permalink 1 Komentar

One response to “Hadiah Untuk Yuna

  1. Ping-balik: Hadiah Untuk Yuna | Cerpen Bernuansa Korea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

November 2017
J S M S S R K
« Mar    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

lauren_iren@yahoo.com

Bergabunglah dengan 1 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: