Yeongwonhi Saranghaeyo Oppa…

Derasnya hujan menyentuh kulit Inata yang lembut. Ia tidak mengetahui kalau hujan akan turun dengan derasnya malam ini. Dan rintik hujan mewakili hatinya yang sedih dan kecawa­­­­. Ia berlari semampunya dengan air mata mengalir dipipinya. Semakin ia berlari, semakin hatinya menjerit kesakitan. Ia tidak tahu apa yang tengah kini ia rasakan.

~~~

“Yeobseyo, oppa [Halo, kak (lk)].” Terdengar kata sapaan Inata kepada seseorang diseberang sana.

“Mwo?[Apa] Kenapa tiba-tiba oppa menyuruh aku datang ke sana? Aku sedang..” belum sempat Inata melanjutkan perkataannya, telponnya sudah dimatikan oleh seseorang diseberang sana. Sebenarnya ia sedang membuat cerpen, yang akan ia kirim ke redaksi. Namun karena ia diminta untuk menemui seseorang, ia pun mematikan laptop dan bergegas untuk pergi.

Inata merasa senang, karena jarang-jarang Tama yang ia panggil dengan sebutan ‘oppa’ itu menelponnya. Apalagi memintanya untuk bertemu pada malam hari. Semoga saja hal baik yang akan terjadi.

Saat memasuki sebuah kafe, ia segera mencari keberadaan Tama diantara kerumunan orang-orang. Ia mencari di ruang utama yang dilengkapi dengan hiburan, namun ia tidak menemukannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke Tama.

Oppa, aku sudah sampai. Kamu ada dimana? Aku tidak menemukanmu!

1 Massage Reveiced

ð  Oppa ^_^

Oh, maaf Ta.. Aku sedang ada diruang karaoke, tunggu saja di meja nomor 3 yang dekat taman belakang. Aku akan segera kesana.

Dengan segera Inata menuju taman belakang, dan duduk di meja yang telah disebutkan oleh Tama tadi. Ia masih bingung dengan semua ini, apakah ia akan makan malam bersama Tama, lelaki yang selama ini ia kagumi. Hope so..

“Permisi  nona, ini minumannya.” Tegur seorang pramusaji di kafe itu.

“Tapi maaf, saya belum memesan minuman. Bahkan saya tidak memesan.” Jawab Inata dengan bingung.

“Aku yang memesannya.” Lantang seorang lelaki yang berada dibelakang Inata, dan mulai mendekatinya. “Terima kasih ya.” Katanya kepada pramusaji tersebut.

“Oppa!” Terdengar suara Inata Lirih.

“Sudah lama menunggu?” Tama menarik kursi didepan Inata dan mendudukinya. “Mianhae  [Maaf]. Tadi lagi asyik menyanyi, menghilangkan stress.” Jawab Tama dengan santai sambil meminum soft drink yang berada di depannya.

“Stress?” Tanya Inata panik.

“Ah, anio [tidak]. Biasalah, stress… tugas kuliah.” Jawab Tama gugup. “Hmm, kamu sudah makan? Kalau belum ayo kita makan dulu.” Tanya Tama buru-buru seakan menyembunyikan sesuatu.

“Oppa, Gwaenchannayo? [Kau baik-baik saja?] Apa yang sedang terjadi?” Tanya Inata Lembut dan serius dengan harapan Tama membalas tatapannya.

Tama melihat kearah Inata, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke kiri. “Aku, aku baru saja diputuskan sama Lita. Dan aku sakit hati sama dia.” Jawab Tama dengan sedikit emosi. Ia kembali meneguk minumannya. Dan jelas suara itu menunjukkan amarah Tama.

“Wae? [Mengapa?] Dia selingkuh?” Tanya Inata datar dengan kedua tangan yang menompang dagu mungilnya.

“Begitulah, dan dia berselingkuh dengan Junsu, sepupuku yang dari Seoul itu. Kamu tentu sudah kenal bukan? Dia satu jurusan tari dengan kamu.” Jawab Tama yang kini sudah mulai tenang.

“Babo!!! [Bodoh]” Inata berkata lirih. “Terus, kenapa oppa memanggilku untuk datang kesini? Tanya Inata sambil meneguk minumannya.

“Aku ingin meminta tolong kepadamu. Dan Inata, aku mohon kamu jangan marah pada ku!” Tama berkata dengan penuh harapan.

“Mwo?” Inata menjawab datar sambil memutar-mutar sedotan yang ada di dalam gelas, dan kembali meminum air itu.

“Kamu… tidak keberatankan kalau, kamu menjadi pacar bohongan Aku?” Tanya Tama dengan agak sedikit ragu. Dan mengetuk-ngetuk jarinya dimeja.

Langsung saja air yang berada di dalam tenggorokan Inata menggelitnya. Ia terbatuk-batuk..

“Mwollago? [Apa kamu bilang?] Op.. oppa bercanda?” Tanya Inata dengan mata yang melotot.

“Aku sudah yakin, kalau ini ekspresi yang akan kamu keluarkan. Tapi, tapi aku tidak bercanda.”

Mengapa harus bohongan, oppa?.  Inata membatin.

“Mengapa harus aku, Oppa? Bukankah oppa banyak teman perempuan yang lebih dari aku.” Tanya Inata menunduk dan mulai merasa sedih. Karena bukan itu yang ingin ia katakan.

“Hanya kamu yang aku percaya. Ayolah kamu mau kan? Tidak lama ko, Cuma 2 bulan.”

“Hmm, baiklah aku akan membantumu, oppa.” Inata menjawab pasrah. Ia menerima tawaran Tama dengan harapan, ia bisa mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan Tama. “Tapi, tolong jangan berpikir buruk, kalau aku sebagai cewek gampangan. Aku menerima tawaran oppa, karena aku ada alasan tersendiri.” Tegas Inata dan memandang Tama dengan tajam.

“Baiklah.. kalau begitu, ini semua akan dimulai lusa. Aku akan menembakmu, saat kita ekskul basket. Ok?” Tama tersenyum dan mengacak-acak rambut Inata.

“Aduh.. iya baiklah oppa.” Inata menjawab dengan ketus, sambil merapikan rambutnya.

Karena merasa tidak ada yang perlu lagi untuk dibicarakan, Inata memutuskan untuk pulang, seorang diri tentunya. Karena ia masih merasa hatinya sakit jika melihat Tama.

“Babo!!!” Inata berteriak saat di jalan, dan hujan mulai turun.

“Kenapa aku menerima permintaannya? Dia hanya memanfaatkan aku untuk memanasi Lita.” Air mata Inata mulai jatuh, diiringi hujan yang malam ini menemaninya.  “Apa yang harus aku lakukan?” Inata berlari dengan terus menangis.

@@@@

Mungkin sudah puluhan telepon dan pesan singkat dari Tama untuk Inata. Namun, tekatnya untuk menjauh sementara dari Tama belum juga bisa ia penuhi. Ia ingin sekali membalas pesan singkat dari Tama. Namun, ia takut hatinya akan lebih sakit.

Inata pergi ke sanggar, untuk dia latihan ballet. Inata adalah seorang Ballerina yang sangat terkenal di kampusnya. Ia sering mengikuti lomba-lomba yang sudah menjajaki tingkat Internasional. Bahkan ia sudah pernah ke Seoul tempat ayahnya, dan ke Tokyo tempat tinggal kakek dan neneknya. Tapi, mengapa ia mengikuti ekskul basket? Inata pun sebenarnya tidak bisa, namun itu atas permintaan Tama. Bagaimana tidak Inata sudah menyukainya sejak mereka sama-sama duduk dibangku SMA.

Saat sedang asyik menari, Inata tidak mengetahui kalau Tama memperhatikannya dari jendela samping.  Dan setelah lagu berhenti mengalun, Tama memasuki ruang latihan.

Terdengar suara tepuk tangan.

“Oppa!” Sapa Inata lirih.

“Hebat sekali. Kamu memang terlihat sangat anggun ya, kalau sedang menari.” Tama melangkah mendekati inata.

“Ada perlu apa oppa datang kemari? Ekskul basket kan masih dua jam lagi.” Inata berusaha menghindar dari Tama, dan membuka tas untuk mengambil air dan handul kecil.

“Aku hanya memastikan keadaanmu. Mengapa kamu tidak menghubungiku?… kamu ingin menjauh dariku?” Tama menyusul Inata yang duduk di Lantai sambil mengelap keringat dengan handuk kecilnya.

“Inata, kamu tahukan hari ini, hari apa?” Tanya Tama sambil mulai serius.

Dan sampai saat ini, Inata belum juga menjawab pertanyaan Tama. Ia asyik meneguk minumannya.

“Hmm, baiklah. Karena waktu ekskul masih lama. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar di taman? Maukan?” Tanya Tama kepada Inata denang senyum. Inata tidak menjawab, ia hanya menoleh ke arah Tama dan menganggukkan kepala sambil tersenyum.

@@@@

“Ini, untukmu..” Tama menjulurkan sebuah es krim ke arah Inata.

“Gomawo [Terima kasih].” Inata dan Tama mulai membuka bungkus es krim dan memakannya.

“Hari ini cerah sekali ya?” Tanya Tama pada Inata yang tetap saja dingin padanya.

“Mengapa oppa, mengajakku kesini? Apa ada sesuatu yang akan oppa katakan?” Inata mulai bertanya serius pada Tama namun tetap memakan es krimnya.

“Inata, kamu tahu? Dua hari yang lalu, setelah kita pulang dari kafe. Lita mengirim pesan kepadaku..” Tama mencoba berkata dengan tenang.

Inata tidak menjawab, ia tetap diam. Namun, kini ia berhenti memakan es krimnya.

“Dia berkata, kalau dia tidak rela kalau aku jatuh ke orang lain. Dan dia meminta maaf kepada ku.”

“Lalu?” Tanya Inata datar. Sebenarnya ia tidak ingin bertanya lagi, karena ia tahu apa yang akan dikatakan Tama selanjutnya.

“Kami tidak jadi putus, atau bisa dikatakan kami jadian kembali.” Jawab Tama dengan semangat dan tersenyum riang.

Apa? Inata terbelalak sejenak, ia tetap saja diam dan tidak memberikan komentar lagi.

“Maaf ya Ta, seharusnya hari ini kita melakukan misi kita.” Tama menatap Inata sejenak. Inata bangkit dari kursi. Ia berusaha menyembunyikan raut wajahnya dari Tama.

“Sebenarnya, aku ingin memberitahukanmu dua hari yang lalu tapi kamu sangat sulit dihubungi. Jadi…” Kata-kaa Tama terhenti karena mendengar sendak tangisan. Yang pasti itu dari Inata.

“Mianhaeyo.. Tolong jangan marah padaku.” Tama berkata lirih. “Kamu termasuk orang yang ku sayang ta. Kamu sudah seperti adikku sendiri. Kamu kan tahu, kalau aku tidak punya adik. Tenang saja.” Tama mencoba menghibur Inata.

“Arasseo [Aku mengerti]. Selama ini oppa hanya mempermainkanku? Oppa ingin tahu bagaimana sayangnya aku sama oppa? Oppa terlalu menganggap remeh orang yang selama ini mendekati oppa. Oppa anggap ia hanya ingin main-main. Oppa tahu, kenapa aku menerima tawaran oppa untuk menjadi pacar bohongan oppa? Itu semua karena aku berharap bisa lebih dekat dengan oppa, agar oppa bisa mencoba untuk mencintaku. Tapi…” Air mata Inata tak berhenti menetes.

“Jeongmal [Sungguh] mianhaeyo [Maafkan aku]..” Tama berkata sambil tertunduk

“Oppa tidak tahu bagaimana perasaan aku. Bagaimana hancurnya. Sakitnya.”

“Inata, sungguh, jangan begitu. Aku akan melakukan apapun untukmu. Asalkan kau mau memaafkanku.” Tama bangun dari bangku, dan memegang tangan Inata.

“Tidak. Oppa tidak salah. Aku yang salah… Aku salah mencintai seseorang..”

“Inata…” Sapa Tama lirih.

“Tapi, aku tidak pernah menyesal mencintai oppa.” Inata mengembangkan senyumnya.

“Inata, Jebal [Tolong], katakan padaku! Apa yang harus aku lakukan?” Tama mulai berkata dengan tegas.

Inata mendesah dan berkata dengan tersedat-sedat. “Menghilanglah dari kehidupanku. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Inata menghapus air matanya.

“Tidak mungkin.” Tama berkata dengan lirih.

“Itulah salah satu cara agar oppa bisa bahagia bersama orang yang oppa sayangi.. Dan aku tahu siapa yang oppa sayangi.” Mereka terdiam, dan saling tertunduk.

“Jika oppa tidak dapat melakukan itu, aku yang akan melakukannya.” Inata berjalan menuju tepi kolam.

“Maksudmu?” Tama mendekati Inata dan berdiri di sampingnya.

“Aku akan kembali ke Seoul. Aku akan kuliah disana, untuk memperdalam kemampuanku dalam menari. Lagian masa dinas ibuku sudah habis.” Inata berkata dengan senyuman yang sangat hangat seakan tiada beban.

Tama tidak berkata apa-apa. Ia merasa kalau Inata pergi, ada sesuatu yang hilang. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Mengapa ia tidak ikhlas kalau Inata pergi?  Tapi..

“Oke.. pergilah. Aku tidak akan mencegah apalagi menghalangimu.” Tama berkata dengan mata yang berkaca-kaca dan hampir meneteskan air mata.

Langit sepertinya mengerti bagaimana perasaan Inata, langit yang tadinya cerah, kini menjadi mendung.  Dan kemudian turun hujan yang kini menemani Inata setelah Tama pergi meninggalkannya. Ia merasa sedikit lega, karena kini ia sudah tidak memiliki beban terhadap perasaannya. Ia berdoa dalam hatinya, semoga saja keputusan yang ia ambil dan tindakan yang ia lakukan merupakan sesuatu hal yang sangat benar.

@@@@@

2 Tahun Kemudian. Di Seoul.

“Ah, bagaimana ini. Baju yang akan aku kenakan untuk lomba tidak ada.  Eomma [Ibu], baju ballet yang…” Inata kaget saat memalingkan badannya.

“Ini, bajunya mama laundry.  Kamu ini, masih ceroboh juga ternyata. Lagian, baju ballet kamu kan banyak. Kenapa harus yang ini?” Ibu Inata melipat baju tersebut dan memasukkannya ke dalam tas inata. Inata tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Namun kemudian senyumnya turun kembali.

“Kamu sudah siap? Tidak ada satu pun yang terlupa, kan?” Tanya ibu dan memberikan tas pada Inata.

“Sip.. aku pergi dulu ya. Nanti eomma akan datang kan, Bersama Appa [Ayah].” Inata pergi menuju luar rumah dan menaiki taxi. Orang tua Inata tidak pergi bersamanya, mereka akan pergi nanti. Hari ini, ia akan mengikuti lomba ballet antar universitas seni di Korea Selatan.

Di sepanjang jalan, Inata  tersenyum riang. Ia berharap hari ini menjadi hari keberuntungannya. Ia mendongak ke arah langit. Hari ini matahari bersinar dengan cerahnya. Secerah hatinya.

@@@@@

Akhirnya, Inata selesai menampilkan tariannya. Ia berharap menjadi pemenang. Tidak mesti juara 1 baginya.

“Ah, akhirnya. Semua hasil kerja kerasku berbuahkan hasil yang sangat memuaskan.” Inata bergumam sendiri dengan senyum yang cerah di ruang ganti. Karena ia mendapat telepon dari orang tuanya, kalau mereka harus pulang duluan, karena ada urusan mendadak. Ia pun segera keluar dari ruang ganti dan menuju kafe kecil di luar sana.

“Chukkahabnida.! [Selamat]” terdengar suara yang tidak asing baginya.

“Aah. Oppa!!” Inata berbalik badan dan berdiri dengan mata terbelalak.

“Ya. Aku disini.”

Inata tidak membalas, ia kembali duduk dan mencoba tenang dengan meminum cappuccino nya. Dan lelaki itu meminta mereka untuk berbicara di luar. Karena merasa tempat ini terlalu ramai dan berisik.

“Bagaimana kabarmu, selama dua tahu ini?” Tanya lelaki itu duduk disampingnya.

“Baik. Oppa sendiri?” Tanya Inata ragu.

“Awalnya aku merasa tidak baik. Makanya aku putuskan untuk datang kesini. Dan akhirmya, kini aku merasa sangat baik.” Tama berdiri kemudian berjalan maju dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Maksud oppa?” Tanya Inata ragu.

“Ternyata, aku tidak bisa jauh darimu. Terlalu sulit bagiku.” Ia mendesah.

“Mmh, maaf oppa. Aku harus..” Inata berdiri dan melangkah, namun seketika langkahnya terhenti.

“Tolong jadilah Inata yang dulu aku kenal.” Tama berkata dengan penuh harap. “Yang ceria, manja, dan juga bisa menghiburku disaat aku sedih.”

Inata tidak menjawab, ia menahan napas. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Apa yang harus aku lakukan?” Inata membelakangi Tama.

“Kini, aku sadar. Ternyata seseorang aku sayangi adalah kamu. Bukan sebagai adikku. Melainkan sebagai seseorang yang memang harus ada dalam hidupku..” Ia berkata dan kini mereka sama-sama berhadapan. Dan baru kali ini, Inata melihat Tama menangis.

“Inata, jebal. Gajima saranga [Katakan cinta]..” Tama menggenggam tangan Inata dan meneteskan air mata. Inata hanya tertunduk.  Ia ingin sekali berkata, namun ia takut menangis.dan ia pun membuka mulutnya.

“Jeongmal saranghaeyo, oppa! [Sungguh aku mencintaimu, kak]” Inata menatap Tama, dan air matanya tumpah.

Tama memeluk inata, dan bisa mendengar suara isak tangis Inata dengan jelas. Jelas sekali itu tangisan bahagia.

“Maafkan aku Inata. Aku bodoh sekali. Karena dulu telah melepaskan seseorang yang sangat aku sayangi. Yaitu kamu.” Tama melepas pelukannya dan menghapus air mata Inata.

“Yeongwonhi saranghaeyo oppa [Aku mencintaimu selamanya kak].” Inata menebarkan senyum indahnya pada seseorang yang sangat ia kagumi. Dan kini menjadi miliknya.

“Oke, sekarang menarilah untukku. Wahai ballerina cantik!!” Rayu Tama sambil mencubit pipi tembem Inata.

“Mwo? Disini?” Inata melirik ke sekelilingnya.

“Iya. Tentu saja. Kamu kan sudah juara satu. Jadi, kamu harus bisa menari dimana saja yang orang minta. Apalagi oppa yang minta…”

Inata mengeluarkan ponselnya kemudian memutar lagu instrumental yang diaransement Tama untuk Inata mengikuti lombanya di Seoul mewakili kampus mereka.. Dan pada saat itu, Tama memberikan baju yang Inata kenakan pada saat tampil perlombaan hari ini tadi. Baju dan instrument itu memang membawa keberuntungan untuknya. Ah, tidak. Bukan itu, tapi Tama lah sebuah keberuntungan yang diberikan Tuhan untuknya.

Hidup Inata terasa lengkap. Apalagi kini Tama sudah memutuskan untuk tinggal di Seoul bersama sepupunya. Dan kini ia mendapatkan pekerjaan di Seoul sebagai sutradara music video, sesuai dengan harapannya saat ia memilih jurusan film di kampusnya.

  Selesai

Created by: Maria Laurenzo. Md. ^_^

Juli 2017
J S M S S R K
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

lauren_iren@yahoo.com

Bergabunglah dengan 1 pengikut lainnya